Thu, 03 Sept 2009 - 02:01:25 WIBCerita Tentang Gempa - 2 September 2009Posted by : administrator
Category: Miscellaneous
- Views: 2885Siang kemarin, 2 September 2009, tiba-tiba menjadi siang yang panik ketika saya merasa ada getaran di tempat duduk saya. Dalam hitungan detik, getaran itu menjadi semakin kuat. Beberapa teman sudah mulai panik dan berlari menuju pintu keluar. Ada gempa. Ya, tanpa pikir panjang, saya hanya sempat mengganti sepatu high-heels saya dengan sandal jepit dan kemudian saya mengikuti arus orang-orang menuju tangga darurat.
Kantor saya berada di Menara BDN, lantai 21. Terbayang bahwa saya harus menuruni 21 lantai untuk menuju lantai dasar. Berdesakan dengan orang-orang dari kantor lain, saya berusaha tetap tenang sambil komat-kamit mengucapkan segala doa utuk keselamatan saya dan orang-orang di sekitar saya. Selama perjalanan menuruni tangga itu, beberapa kali saya terhuyung. Rupanya guncangan akibat gempa ini sungguh hebat. Tidak tahu, berapa lama guncangan itu mengombang-ambingkan kami, setidaknya saya baru merasa tidak terhuyung lagi ketika sudah sampai di lantai 7.
Alhamdulillah, saya bisa sampai di bawah, di lantai dasar, dengan selamat. Saya lihat beberapa teman kantor saya pun sudah berada di pelataran parkir gedung menara BDN. Disinilah baru saya tahu bahwa pusat gempa berada di Tasikmalaya. Ya Allah, saya yang di Jakarta saja merasakan begitu hebatnya guncangan gempa yang berkekuatan 7,3 SR ini, bagaimana mereka yang berada di lokasi gempa? Masih pantaskah saya mengeluhkan pegalnya betis saya karena harus mengikuti evakuasi menuruni tangga sebanyak 21 lantai...???
Tanpa pikir panjang, saya pinjam handphone teman saya, karena handphone saya tertingal di meja kerja saya. Saya berusaha menghubungi keluarga dan oarng-orang terdekat yang saya sayangi. Tapi tak satupun nomer yang saya pencet, menghubungkan saya dengan mereka. Disisi lain kepanikan saya, saya berdoa semoga orang-orang yang saya sayangi dalam kondisi yang baik-baik saja. Terimakasih untuk Kania, yang sudah menenangkan saya melalui telpon yang terhubung di handphone teman.
Subhanallah, begitu besarnya kekuasaanMU. Karena tidak berani naik dan memasuki gedung lagi, saya minta tolong pada salah satu teman saya (yang kebetulan mau naik lagi ke kantor) untuk mengambilkan laptop dan handphone saya. Akhirnya, saya pulang dengan hanya membawa laptop dan handphone. Segala tas, dompet, kabel data, kabel adaptor dan barang lain biarlah saya tinggal di kantor. Saya harus pulang secepatnya.
Hufff, tetap saja tidak bisa pulang cepat sampai di rumah. Kemacetan parah melanda seluruh ruas jalanan ibukota.
0 Comment(s) :
Leave your message here :

