Tue, 18 Agst 2009 - 03:43:42 WIBKampung Baso - Setiabudi Atas, BandungPosted by : administrator
Category: Miscellaneous
- Views: 3797Berawal dari sebuah papan yang bertuliskan baso goreng dan baso gepeng, yang terlihat oleh saudara saya ketika kami berbelok memasuki kawasan Gegerkalong Girang. Yap, hari Sabtu, 15 Agustus 2009 yang lalu, saya bersama dengan saudara saya dan anak-anak kami, mengawali long weekend di rumah mama saya di Bandung. Karena sampai dirumah sudah cukup malam, kami memutuskan untuk beristirahat dan mengurungkan niat untuk mengenyangkan perut kami.
Tapi, rupanya rasa penasaran itu kembali timbul ketika pada keesokan harinya, Minggu 16 Agustus 2009, ada seruan dari Mama supaya kami tidak hanya berdiam diri di rumah. Saya, Win dan Susan akhirnya memutuskan untuk mencoba baso goreng dan baso gepeng, serta mungkin menu lain yang ada di Kampung Baso. Sedikit informasi tentang lokasi Kampung Baso saya dapatkan dari kerabat saya, Coy, dan seorang teman Plurker,
Tameey.
Berhubung macet tak terkira untuk jalur yang menuju kawasan Lembang, begitu informasi dari Coy, kami memutuskan untuk menggunakan angkutan umum untuk menuju Kampung Baso. Sesungguhnya, dari Taman Setiabudi Gerlong ke Kampung Baso jaraknya kurang lebih hanya 500 meter. Tapi karena kemacetan yang amat sangat, kami menghabiskan waktu sekitar hampir 30 menit. Tentu saja itu sudah plus waktu yang digunakan si angkot utnuk ngetem di depan terminal Ledeng. [sigh, dasar angkot!!]
WOW, itu kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika kami memasuki Kampung Baso. Area parkirnya lumayan luas dan saat itu sudah sangat penuh. Juga terlihat 2 buah Bus Pariwisata yang nangkring di pinggir jalan. Masuk lebih dalam, seorang waiters cowok yang kemudian membantu kami menemukan sebuah saung yang kosong. Cukup jauh kami berjalan menuju saung itu. Hosh....hosh...hosh...., Ngos-ngosan juga jalan menuju saung yang berkelok dan berliku. Kami harus melewati sebuah 'warung' yang berisi goreng-gorengan dan macam-macam kerupuk, sebuah area permainan, beberapa saung yang telah terisi dan sebuah area makan yang digunakan untuk rombongan dalam jumlah besar. Fiiiuuhhhh.......
Daripada cuma membayangkan, saya coba rangkum dalam beberapa gambar foto dibawah ini:
Setelah memesan, saya post
sebuah thread di Plurk tentang keberadaan saya di Kampung Baso. Sekalian Plurkwalking, menilik dan menengok serta merespon beberapa thread punya teman. Eh, lama juga lho nunggu makan datang. Tadi, kami memesan baso daging sapi, baso urat daging sapi, baso gepeng dan baso goreng. Untuk minumannya kami memesan es durian, 'Kampung Baso' Lemon Punch, dan beberapa minuman standar. FYI, es duriannya enak buangeeeeettttttt. Duriannya maknyooooossss. Asli, bikin ketagihan.
Lebih dari 30 menit kemudian, barulah baso-baso yang kami pesan datang. Melototlah mata saya, kaget melihat porsi yang mereka hidangkan. Nggak nendang....... Apalagi buat saya yang tukang makan begini. Sedikit. Terpikir untuk nanti akan memesan lagi saja (dasar rakus, hehehheheh). Mulailah saya dan saudara-saudara saya menyantap baso-baso yang telah tersedia di meja. KOmpak dan sontak, setelah suapan pertama masuk kemulut kami, spontan kami berucap STANDAR. Soal rasa, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Bahkan saya akan lebih memilih Mie Akung ketimbang harus kembali makan baso di Kampung Baso ini.
MAHAL, itu kata selanjutnya yang juga kompak saya dan saudara-saudara saya ucapkan. Kami bertiga harus menghabiskan lebih dari 100ribu untuk 3 mangkuk kecil baso, sepiring baso goreng, es durian, lemon punch, teh botol dan fruit tea. Mereka pun membebankan tax dan service sebesar 15% kepada para konsumennya.
Huffh, mau ngak mau, suka nggak suka, saya sudah ada disini. Dan setidaknya saya bisa berbagi dengan Anda para pembaca, tentang salah satu tempat yang mungkin selama ini heboh dibicarakan orang, Kampung Baso. Secara Landscape memang bagus, secara Suasana juga adem dengan saung-saung yang ada disana. Adanya area permainan untuk anak-anakpun menjadi sebuah nilai tambah dari tempat tujuan wisata kuliner yang satu ini. Musholla yang memadai. Toilet pun bersih. Tapi itu semua akan terpatahkan ketika tidak ada rasa yang istimewa yang melekat di lidah saya.
Ini semua hanya penilaian saya secara pribadi. Tidak ada tendensi apapun untuk mendeskreditkan sebuah lokasi wisata kuliner. Semuanya kembali kepada masing-masing pembaca tulisan ini. Ada kemungkinan juga bahwa saya telah salah mempersepsikan Kampung Baso, karena saya belum mencoba semua menu yang ada disana. Jika demikian adanya, saya mohon maaf.
Selamat berwisata kuliner dan mencoba Kampung Baso di kawasan Setiabudi Atas, Bandung....
Yang dibawah ini foto-foto narsis saya dan 2 saudara saya ....

